Manglingi
Sore itu handphoneku berdering, ternyata panggilan
konferensi dari ketiga sahabatku. Katakanlah namanya Kak Mawar, Bu Melati dan
Kenanga.
Kak Mawar usianya dua tahun lebih tua dariku, sementara Bu
Melati satu tahun lebih muda dang Kenanga tiga tahun lebih muda dariku.
Mereka bertiga adalah sahabat yang kemanapun kami pergi
selalu bersama, suka dan duka kami bagi bersama. Latar belakang kehidupan kami
juga hampir sama, hidup di kalangan
sederhana dengan kondisi sosial lingkungan masyarakat Jawa. Hal ini membuat
kami berempat semakin klop dalam berbagai hal apalagi ketika bersendagurau.
Sengaja tidak kutulis nama sebenarnya, agar aku lebih
leluasa dalam mengekspresikan tulisanku. Alasannya adalah sangat sederhana,
karena dua dari tiga nama tersebut aktif dalam grup GuLi tercinta kita ini.
Kejadian ini juga terjadi sudah sangat lama, lebih kurang sepuluh tahun lalu.
“Assalamualaikum.” Sambutku mengawali percakapan dalam
telepon tersebut.
Ketiga sahabatku membalas salamku hampir serempak. Kamipun
bercerita ngalor ngidul, namun inti dari percakapan kami dalam telepon tersebut
adalah kesepakatan untuk menghadiri undangan peresmian pernikahan anak dari
teman kami.
Keseokan harinya sesuai rencana, kami bertemu di simpang
halte atas. Saat itu aku mengendarai sepeda motor matic Suzuki Spin hitam.
Sepeda motor yang kubeli sebelum lulus PNS di Pemkab Toba Samosir tahun 2008.
Satu persatu ketiga sahabatku itu datang, hingga kami berangkat bersama.
Sesampainya di lokasi resepsi pernikahan, kami langsung
menuju ke meja makan jalan yang telah dipersiapkan ahli bait. Kamipun menikmati
makan – makanan yang disajikan sambil bercerita dan bersenda gurau.
Dari kejauhan terlihat beberapa ibu-ibu berusia sekitar
empat puluhan menggunakan pakaian berwarna cerah dan menarik perhatian,
memasuki lokasi pesta, mengambil makanan di meja makan hidang dan duduk di meja
samping dimana kami duduk. Karena meja makan yang disediakan berbentuk bundar,
posisiku tepat menghadap mereka.
Dua diantara empat ibu-ibu tersebut adalah tetangga Kenanga,
sehingga Kenanga sahabatku itu memasang senyum ramah dan mengangguk pertanda
mekeka memang saling mengenal.
Satu dari ibu-ibu tersebut tiba-tiba nyeletuk “Lho iki kan
plamenane Bik Ginem, yo Yu Mes?” Tanya
salah satu ibu tersebut kepada temannya, yang menurut Kenanga sahabatku, teman
yang ditanya bernama Mesniati Mandor (karena Bu Mesniati berprofesi sebagai
mandor di sebuah perkebunan).
Itulah keunikan masyarakat desa pada masa lalu, sering
sekali menambahkan gelar atau nama-nama khas untuk lebih memfokuskan persepsi.
Tanpa ada rasa tersinggung bagi yang dipanggil dan tanpa ada
rasa mengejek bagi yang memanggil.
Semisal di desa tersebut ada dua orang yang bernama Tuyem,
nah agar tidak salah orang, mereka menambahkan nama khas pada nama tersebut.
Misalnya Tuyem Ngapak karena mungkin logat bahsanya agak Jawa Ngapak. Misno
Opak karena membuat industri rumah tangga opak, atau justru Yuk Ra Membot
karena bertubuh agak besar.
Kalau sekarang ini mungkin hal ini sudah jarang dijumpai,
sebab orang-orang sekarang sudah memahami hakikat pentingnya sebuah nama, sehingga
menghindari gelar-gelar yang dapat menyinggung perasaan dan hati orang lain.
Hal ini menunjukkan keberhasilan kita selaku orang tua ataupun insan pendidik dalam membentuk karakter
anak-anak didik kita yang kita didik sekita sepuluh atau bahkan limabelas tahun
yang lalu.
Karakter inilah yang perlu kita pertahankan, apalagi
sekarang ada undang-undang tentang body shaming atau penghinaan fisik baik di
media sosial maupun ruang publik. Karakter saling melengkapi, tepaselira dan
empati, akan menghindarkan kita dari niat menyakiti atau bahkan mengolok-olok
saudara kita sebangsa dan setanah air.
“ Iyo Wat, koyokku memang plamenane Bik Ginem.” Jawab nya
memastikan keraguan ibu-ibu yang bertanya kepadanya.
Entah siapa yang mengkomandoi kami berempat, sehingga kami
berempat sama-sama tunduk tak berani saling pandang, berpura-pura menikmati sepiring makanan di
depan kami masing-masing. Kulirik sesekali keempat ibu-ibu tersebut yang
semakin antusias bercerita, sehingga menambah besar konsentrasiku dengan topik
cerita dan keriangan mereka yang terlihat lepas dan mengalir natural.
‘Yuk Mes, Bik Ginem nek ndandani manten
manglingi lho!” ungkap seorang ibu yang tadi dipanggil dengan nama Wat
oleh Bu Mesniati.
“ Yo manglingi lah, dukun mantene nek arep ndandani tirakat
sek.” Timpal salah satu ibu-ibu lainnya. Maksudnya perias pengantin sehari
sebelum merias melakukan puasa terlebih dahulu.
Aku semakin berpura-pura menikmati makananku. Sementara
ketiga sahabatku semakin menunduk hanyut dalam suasana keseruan cerita keempat
ibu-ibu itu. Sesekali kulihat Kak Mawar menahan senyum dalam posisi tetap
tertunduk. Aku khawatir Kak Mawar melihatku dan mata kami bertemu. Ya ampun hal
ini sangat aku hindari, jangan sampai terjadi. Sebab kalau kami jumpa pandang
pasti kami tertawa dan itu akan mengganggu ibu-ibu yang sedang asyik membahas
pelaminan, dukun manten dan manglingi.
Beberapa menit kemudia bunyilah musik gendingan dari alat
keyboard yang memang diundang ahli bait, pertanda acara temu manten akan
dimulai.
“Wah Ayune mantenne, delok Yuk Mes, manglingi kan? Aku
sampek ora tondo.” Ucap Ibu Wat
“Iyo, Wat mantene ayu, nglembah manah lah pulak omonge
wong-wong.” Timpal Bu Mes
Nglembah manah artinya baik budinya dalam istilah jawa.
Sepontan kami berempat menegakkan kepala, melihat dengan
saksama kearah penganten yang digadang gadang ayu dan manglingi.
Namun anehnya kami berempat membisu ibarat air yang tak
bergeming walau tersentuh desiran angin. Ketika mata kami berempat bertemu
pandang, dengan serempak kami membuang muka.
Aku menunduk, Bu Mawar berakting mengambil kaca kecil dan
berpura-pura menata posisi rambut. Sedangkan Kenanga menyibukkan diri dengan
membuka tas dan pura-pura melipat amplop. Lain hal nya dengan Bu Melati
sahabatku, beliau pura-pura konsentrasi menata beberapa toples makanan ringan
yang ada di meja kami.
Pikiranku berkecamuk, mengapa ketiga sahabatku melakukan
akting-akting seperti itu. Yang pastinya ketika kulihat dengan saksama, riasan
pengantinnya memang agak lain. Warna yang begitu mencolok dilukiskan pada wajah
sang pengantin. Seingatku pengantinnya tidak punya tahi lalat, tapi kok
tiba-tiba seperti ada tahi lalat yang sengaja dibuat diatas bibir kanan. Apakah
ini yang dikatakan manglingi? Oh entahlah, sampai sekarang aku juga belum faham
dengan istilah “manten manglingi” yang sebenarnya dan yang dimaksud oleh
keempat ibu-ibu yang duduk di meja depan saya.
Beberapa saat kemudian ketika kami beranjak pulang menuju
tempat parkir, dengan wajah yang masih bingung dan penasaran, kuperjelas
pertanyaanku kepada ketiga sahabatku, “ Pengantinnya manglingi ya?” Namun
lagi-lagi mereka tidak menjawab, malah melakukan hal-hal yang sepertinya
mengalihkan pertanyaanku.
Beberapa saat sebelum berpisah, Kenanga menawarkan sesuatu.
“Bang, besok pulang kerja mau aku traktir? Tapi ada
syaratnya!”
“Ya Mau lah, apa syaratnya?” jawabku dengan cepat takut
Kenanga berubah fikiran.
“Jangan tanya-tanya aku tentang manten manglingi! Itu saja
syaratnya.”
‘Ok, gimpil lah kalau Cuma itu.”
Aku dan Kenanga memang setiap hari bersama, karena kami
ditugaskan pada sekolah yang sama, di Pemkab Toba Samosir.
Hingga sampai sekarang, kata manglingi masih menjadi kata
yang sangat berkesan dalam hidupku.
Desa Manis,
Selasa, 16 Maret 2021
Romitar H Situmorang
Komentar
Posting Komentar